jump to navigation

Ulama dan Kepala Negara Wajib Takut Kepada Allah SWT May 29, 2014

Posted by Liliek in Karguzari.
trackback

Berbagai peristiwa yang terjadi saat ini di Indonesia membuat bulu kuduk kita berdiri, predikat ulama dan kepala negara sudah menjadi profesi yang prestisius.  RasuluLLah SAW telah sampaikan kepada kita bahwa seburuk-buruk manusia adalah ulama yang jahat, sebab tidak bisa disamakan orang berilmu dan orang yang tidak berilmu.  Demikian pula setiap pemimpin akan ditanya tentang kepemimpinannya, semakin banyak yang dipimpin akan semakin besar tanggungjawabnya disisi Allah SWT.

Inti persoalan yang sesungguhnya adalah melemahnya atau hilangnya ghirah berkorban untuk agama.  Semakin kecil ghirah berkorban, semakin jauh seseorang dari rasa takut kepada Allah SWT.  Oleh karena itu Allah SWT selalu ingatkan kita semangat berkorban setiap tahunnya yang dikenal dengan ‘iedul adha atau hari raya korban, bukan daging dan darah binatang korban yang dilihat Allah SWT, tetapi yang dilihat adalah takwanya.

Efek langsung dari melemahnya semangat berkorban untuk agama adalah berkurangnya rasa takut kepada Allah SWT dan berimbas langsung pula kepada perilaku menyimpang dari ajaran agama, sekalipun dalam kesehariannya menggunakan jubah agama.

“Allah SWT tidak melihat harta dan rupamu, tetapi melihat kepada hati dan amalmu”, demikian hadist RasuluLLah SAW yang sangat populer tetapi sangat sulit untuk benar-benar dipahami, sekalipun oleh seorang doktor maupun professor di bidang agama.  Sebab urusan hati dan amal ini sangat abstrak, tidak bisa kita menilai hati seseorang hanya dari sisi penampilannya saja tanpa melihat sisi lain secara komprehensif.  Tidak bisa dibenarkan seorang yang merasa sholeh menilai isi hati seorang pelacur tidak ada kebesaran Allah SWT, demikian pula seorang ahli maksiat menilai orang yang berpenampilan sholeh sebagai orang munafik.  Dan yang pasti penilaian yang mutlak benar ada disisi Allah SWT.

Menilai seseorang tidak sesederhana sebagaimana penampilannya, tetapi hati manusia memiliki pemandu kebenaran yang hakiki, yaitu Allah SWT.   Orang yang telah mencapai derajat kedekatan dengan Allah SWT akan dibimbing untuk melihat kebenaran sebagaimana Allah SWT telah bimbing para Nabi.  Semakin tinggi derajat kedekatan dengan Allah SWT semakin mudah dan semakin cepat dalam menyikapi kebenaran setiap peristiwa.

Allah SWT akan mengangkat seorang pemimpin diantara suatu kaum sesuai dengan tingkat keimanan dari mayoritas kaum tersebut.  Mayoritas kaum perampok akan mengangkat perampok terbaik diantara mereka, kaum pezina akan mengangkat pezina terbaik diantara mereka,  kaum pengagum teknologi akan mengangkat pendukung teknologi terbaik diantara mereka, demikian seterusnya… dan hal ini telah berlangsung sepanjang zaman.

Oleh karena itu RasuluLLah SAW pada saat dinobatkan sebagai seorang Rasul oleh Allah SWT tidak terlintas sedikitpun dalam benak beliau untuk mendirikan suatu negara atau ingin menjadi seorang pemimpin negara.  Yang beliau buat adalah menanamkan semangat berkorban untuk agama kepada setiap pengikutnya, dan Makkah adalah tempat terbaik untuk menggembleng para sahabat beliau dan tempat terbaik pula untuk mempercepat mengenalkan dan mendekatkan kepada Allah SWT.  Dari Makkah pulalah lahir para pemimpin terbaik kaliber dunia akhirat: Abubakar Ashiddieq RA, ‘Umar bin Khattab RA, Utsman bin ‘Affan RA, dan Ali bin Abu Thalib RA.  Mereka adalah Ulama sekaligus Kepala Negara terbaik dari kalangan manusia biasa sepanjang masa yang tidak ada keraguan sedikitpun kebenarannya.

Setiap hati yang bersih dan cerdas, akal yang sehat, nafsu yang tenang akan memberi kontribusi bagi munculnya seorang pemimpin yang takut kepada Allah SWT.  Oleh karena itu RasuluLLah SAW lebih memilih jalan dakwah dalam menegakkan kepemimpinan daripada jalur kekuasaan.  Kekuasaan adalah mutlak pemberian Allah SWT, bukan rekayasa manusia.  Inilah yang dimaksud dengan firman Allah SWT:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah sesuatu yang ada pada diri mereka sendiri” (QS 13:11)

Menafsirkan suatu ayat tidak semudah mempelajari suatu bahasa, dan mempelajari suatu bahasa tidak semudah berkorban untuk agama.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: