jump to navigation

Selamat Tinggal Ramadhan… Selamat Jalan Istriku Tercinta… InsyaaLLah Aku Segera Menyusul Kalian Berdua… September 3, 2011

Posted by Liliek in Biografi, Karguzari.
trackback

Tidak terasa Ramadhan 1432H tiga hari telah berlalu, tamu tak diundang yang sangat mulia itu telah meninggalkan kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan sepanjang hidupku.   Kenangan yang paling dahsyat dalam hidupku…

Cerita ini aku mulai dari keberangkatan rombongan Depok 2 pada hari rabu malam 22 Juni yang akan hadir di Ijtima’ 2011 se Jawa – Madura (+Lampung, Babel & Kalbar) di Cikampek.  Kontrak rumah kami di Jl. Ciliwung XIV No.448 RT.05 RW.02 Depok Timur sudah hampir habis, dan pemilik rumah berencana akan membongkar rumah tersebut menjadi tiga petak.  Aku dibantu oleh teman-teman yang akan berangkat ke ijtima’ memindahkan sebagian barang-barang yang berat ke kontrakan baru di RT.11 RW yang sama.  Setelah itu kami lanjutkan memindahkan barang-barang teman kami Edi Wintoro ke kontrakan yang sama beserta istrinya.  Istriku sementara masih tinggal di kontrakan lama sampai habis masa kontrak di akhir Juli tahun ini.  Suasana yang sangat sibuk di rumah melupakan kondisi istriku yang sudah agak payah karena penyakitnya yang cukup parah.  Istriku tanpa ekspresi sedih atau gelisah sedikitpun tetap menyibukkan dirinya membereskan rumah yang akan aku tinggalkan selama empat bulan di jalan Allah.  Aku tidak tahu persis apa yang ada di benak istriku, yang jelas saat itu istriku juga menyiapkan baju dan keperluanku tanpa menunjukkan kegelisahan sedikitpun.  Aku pikir karena dia sudah terlatih aku tinggalkan dua kali empat bulan di jalan Allah.  Dan saatnyapun tiba untuk segera ke masjid berkumpul dengan teman-teman yang sudah siap hadir ke lokasi ijtima’.

Dengan perasaan yang campur aduk antara bahagia, sedih, semangat dan gelisah akhirnya kami berangkat ke lokasi Ijtima’ Cikampek dengan menyewa dua angkutan kota dan tambahan satu mobil kijang avanza.  Aku berharap Allah Swt atas pengorbanan kami akan berikan keajaiban kepada istriku atas penyakit kanker payudara ganas yang sudah diidapnya selama kurang lebih satu tahun.

Singkat cerita ijtima’ telah usai dan kami usulkan kepada team tasykil rute 4 bulan jalan kaki menelusuri pesisir pantai selatan dari Wates (Jateng) menuju Cilacap (Jateng).  Namun usulan kami tidak disetujui dan diganti dengan rute sekitar karesidenan Pekalongan, maka kami sami’na wa ‘ato’na (kami dengar dan kami taat).  Jamaah inti dari Depok 2 terbentuk 7 orang dengan tambahan 2 orang dari Palembang, 2 Orang dari Bendungan Hilir, 1 Orang dari Jurangmangu Tangerang, dan 1 orang dari Bekasi.  Menjelang keberangkatan kami mendapat amanat dari team tasykil satu orang asing bernama AbduLLah berkebangsaan Amerika Serikat kulit hitam (Pennsylvania) untuk bergabung bersama kami.  Maka jumlah kami menjadi 14 orang.  Sore itu juga kami berangkat menuju Pekalongan dengan kereta api ekonomi Kertajaya jurusan Surabaya.  Dikereta api itu AbduLLah hampir pingsan, mungkin karena belum terbiasa naik kereta api yang sumpek, berkeringat, berdiri, penuh dengan manusia, asap rokok dan pedagang asongan yang selalu memaksakan diri masuk ke dalam kereta.  Mungkin dia berpikir bahwa ini adalah bagian dari keajaiban Indonesia… tarbiyah yang bagus untuk karkun…

Hari-hari kami lalui dengan bahagia, satu hati, penuh semangat dan ceria… seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu yang luar biasa di kampung halaman… kami betul-betul belajar tawakal sepenuhnya bahwa Allah Swt pasti akan selesaikan semua urusan kami dengan sempurna…

Tasykil kami dimulai dari sebuah desa di pegunungan kabupaten Batang dan terus menuju ke perbatasan Pekalongan dan terus menembus ke kabupaten Pemalang.  Rute ditentukan oleh teman-teman Anshor Pekalongan, kami jaga betul kerjasama dan koordinasi dengan Anshor dengan keyakinan bahwa Allah Swt akan turunkan nusrohNya dan hidayahNya di tempat-tempat yang kami kunjungi khususnya dan seluruh alam pada umumnya…

Menjelang satu bulan, rombongan Anshor dalam hal ini diwakili oleh Pak Kukuh menyampaikan surat untukku dari Markaz Kebon Jeruk yang ditandatangani langsung oleh Pak Cecep Firdaus.  Surat tersebut print dari hasil scan yang dikirim melalui e-mail oleh temanku Anto ke Pak Kukuh.  Tiba-tiba tubuhku terasa lemas… dengan tangan agak gemetar dan hati yang berdebar-debar aku baca surat tersebut.  Isi dari surat tersebut sebagai berikut:

Assalamu ‘alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Bersama Surat ini Kami sampaikan berita kepada Amir Rombongan 4 bln JK dari Depok, Atas nama ABDURRAHIM (Liliek Prasetyo) yg berangkat dari Istima Cikampek agar kembali ke Markaz Jakarta, karena ada hal yg perlu dimusyawarahkan dgn orang tua Kebon Jeruk.

Untuk selanjutnya rombongan agar memilih Amir pengganti dengan Musyawarah, dan meneruskan perjalanannya.

Demikian, harap maklum.

Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Jakarta, 21 juli 2011

Pengurus Masjid Jami Kebon Jeruk

(tanda tangan Pak Cecep Firdaus)

Setelah aku bacakan surat tersebut kepada ma’mur kemudian bershalawat untuk menentukan Amir Pengganti, dan ilhamku jatuh kepada Edi Wintoro.  Sebenarnya aku heran, tidak biasanya syuro memerintahkan seorang Amir Rombongan untuk kembali ke markaz, kalau bukan sesuatu yang mendesak kemungkinan kecil Syuro memanggil kembali ke markaz.  Apalagi kami adalah jama’ah 4 bulan jalan kaki yang tidak ada tambal sulam jamaah di dalam perjalanan selama 4 bulan.  Anshor mengusulkan agar AbduLLah juga ditarik kembali ke Jakarta berkenaan dengan kendala bahasa, aku menyetujuinya.  Perpisahan yang sangat mengharukan, aku melihat teman-teman matanya berkaca-kaca dan memelukku dengan erat sebagai tanda perpisahan.  Maka kami berdua segera berangkat dihantar oleh Anshor dengan sepeda motor ke stasiun Pekalongan dan kembali malam itu juga ke Jakarta dengan kereta api bisnis Gumarang jurusan Pasar Turi Surabaya – Jakarta Kota.

Pagi hari kami sampai di setasiun Beos – Jakarta Kota dan tiba di Markaz Kebon Jeruk menjelang siang.  Esok harinya aku ikut bayan wabsy sesuai arahan team tasykil markaz dan kembali ke muhalla ba’da Shalat Jum’at (22 Juli 2011).  Tepat menjelang Ashar tiba di muhalla masjid Al-Ma’mur dan bertemu dengan Anto yang memberikan karguzari ihwal istriku dan keberadaan istriku di tempat kakak ipar di Lenteng Agung.

Ba’da Maghrib aku pergi ke Lenteng Agung aku dapati istriku sudah dalam keadaan sangat payah dengan nafas tersengal-sengal menahan sakit dan sudah beberapa hari tidak bisa tidur.  Aku peluk istriku, tidak terasa kami tersengal-sengal “menahan tangis” keharuan, dan dengan penuh rasa syukur kepada Allah Swt bahwa kami masih sempat dipertemukan, kami saling targhib satu sama lain tentang kasih sayang Allah Swt yang diberikan kepada kami, dan kami merasakan ini merupakan keberkahan dari hasil musyawarah syuro yang memulangkan aku.  Banyak sekali hikmah yang kami rasakan dari peristiwa ini.  Segera setelah Isya aku segera kontak ke Isya (teman kerja) meminjam mobil kantor untuk pulang ke Purwokerto.

Esok harinya kami mengambil keperluan dirumah kontrakan dan membeli obat herbal untuk istriku di jalan Merdeka Depok Tengah, kemudian kami jemput anak-anak kami (Nabil dan Naufal) yang berada di rumah adik kandungku (Niniek) di Kalisari Cijantung.  Perjalanan kami sangat lancar, kurang lebih sepuluh jam, tidak ada kemacetan di jalur pantura.  Setibanya di Purwokerto kami disambut oleh Ibunda tercinta…

Hampir sepuluh hari kami mencoba bertahan di rumah, namun Allah Swt berkehendak lain… kami akhirnya pada tanggal 2 Ramadhan 1432H ke Rumah Sakit Margono Soekarjo Purwokerto.  Tepatnya di ruang paviliun atas (lantai 2) Soepardjo Roestam (PSR II) kamar 214.  Selama di Rumah Sakit istriku masuk ke ruang operasi dua kali, pertama pemasangan dua buah selang untuk mengeluarkan cairan dari paru-paru kanan dan kiri, kedua untuk memperbaiki selang yang kurang pas posisinya di paru-paru kiri.  Cukup banyak cairan yang keluar, aku tidak tahu persis berapa liter yang keluar, tetapi menurut perkiraanku sekitar lima liter termasuk yang dikeluarkan pada saat operasi.

Yang berikut ini membuatku malas untuk mengetik….

Tanggal 9 Ramadhan 1432H tibalah saatnya istriku untuk kemoterapi… dokter memasukkan cairan kemo ke kedua sisi selang kanan dan kiri… kemudian istriku diperintah untuk menggerak-gerakkan badannya agar cairan itu cepat menyebar keseluruh tubuh… sehari sebelumnya aku telah membaca artikel mengenai kemoterapi… ( http://rumahkanker.com/pengobatan/medis/19-kemoterapi-kawan-atau-lawan ) dan di artikel lain disebutkan bahwa kemoterapi diperuntukkan bagi orang yang fisiknya dalam keadaan fit… tapi rupanya aku tidak ada pilihan lagi… aku anggap dokter Loppo sudah banyak pengalaman mengenai hal ini… aku tandatangani surat pernyataan…

Tanggal 10 Ramadhan 1432H… hari yang sangat bersejarah sepanjang hidupku… tidak ada yang paling berkesan sepanjang hidupku kecuali hari ini… setelah 24 jam kemoterapi, dokter Loppo menengok kondisi istri dan sangat terkejut… aku heran mengapa dia terkejut… dia memanggilku dan memberitahu bahwa kondisi istriku sangat buruk dan dimohon untuk segera memberitahu kepada keluarga untuk datang ke rumah sakit… aku berusaha setenang mungkin… aku memang tidak bisa membedakan istriku yang memang selama ini sesak nafas dengan sakaratul maut… keadaannya sulit untuk dibedakan… kecuali kaki kanan dan kedua tangannya yang sudah dingin (aku pikir itu efek dari kemo terapi)… kaki kiri masih hangat………. lidah istriku tidak lepas berdzikir… aku mendekat kemulutnya sepertinya yang didzikirkan “laa ilaaha illaLLah…”… aku targhib istriku ditelinganya untuk tidak lepas dzikir walau sesaat…… pulsa habis……. tidak ada pilihan lain kecuali hanya dengan sms ke ibu dan adik ipar (Bowo)… atas izin Allah Swt mereka datang tepat pada waktunya… aku bacakan surat Yasin… Ibu memeluk istriku dan mentalqinnya… dipertengahan surat Yasin yang kubaca… kurang lebih pukul 11:00am Ibuku terisak dan memeluk istriku dan bilang kepadaku… “Liek… kaya’nya Widya sudah nggak ada…………………………………………………………..” Malaikat Izrail dan Ramadhan Mubarak menjemput istriku… sepi…….. sepi…….. sepi sekali…. yang ada hanya isakan ibuku dan adik iparku…. sedang aku hanya terdiam bisu…. para perawat masuk dan memeriksa detak jantung istriku untuk memastikan kematian istriku… segera aku ambil wudlu dan ke ruang sebelah menggelar sajadah… shalat dua rakaat… kemudian aku ucapkan “innaa liLLah wa innaa ilaihi raajiuun… ya Allah aku telah tunaikan hakmu… mudah-mudahan engkau ridha pada kami…

Aku tinggalkan istriku untuk shalat Dzuhur di masjid, sekitar jam 13:00 jenazah istriku dimandikan di ruang jenazah rumah sakit, berita sangat cepat tersebar, saudara-saudaraku di Purwokerto begitu sigapnya menyelesaikan semua urusan termasuk persiapan pemakaman.  Kuranglebih pukul 14:00 istriku dibawa ke rumah di Griya Karang Indah Blok E No.3 Purwokerto… SubhanaLLah… semuanya sudah siap menyambut di rumah, rumah sudah siap sedemikian rupa menyambut jenazah istriku.  Ba’da Shalat Ashar istriku dibawa ke Masjid An-Nur untuk dishalatkan kembali dan segera dibawa ke Pemakaman Karangbenda disebelah makam Maminya tercinta Sri Donokasih yang telah mendahuluinya… pemakaman selesai sekitar pukul 16:30 (dari meninggalnya istri sampai pemakaman memakan waktu kurang lebih 5 jam 30 menit).  JazakumuLLah khairan katsiran bagi semua pihak yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung… aku tidak bisa membalas kebaikan Bapak / Ibu / Saudara sekalian…

Istriku bukan sekedar istri… istriku adalah partner dakwahku yang tangguh… istriku asbab hidayahku… ya Allah… terimalah pengorbanan istriku untuk agamamu… sungguh Engkau tidak pernah mengingkari janji…

Purwokerto, Sabtu, 3 September 2011… Tamuku Yang Mulia Ramadhan… De Wie… inspirasiku… SELAMAT JALAN… insyaaLLah aku segera menyusul kalian berdua… jemput aku disana…  Allah Swt masih perintahkan aku untuk terus berjuang dimuka bumi ini untuk kejayaan agama… aku rindu berat pada kalian berdua…

Comments»

1. Braces Off parody - September 3, 2015

Braces Off parody

Selamat Tinggal Ramadhan… Selamat Jalan Istriku Tercinta… InsyaaLLah Aku Segera Menyusul Kalian Berdua… | KARKUN DEPOK II

2. Itom Belakang Unsoed Kalibakal - January 24, 2015

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Mas Liliek. Turut berduka cita atas berpulangnya istri. Semoga khusnul khatimah.

Mas. Tolong kirim no hp sampeyan ke email saya ya.

Jazakumullahu khairan katsiran.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

3. Nana Rasuna - September 24, 2014

Kisah nyata yang sangat menyentuh dan targib diri sendiri untuk keluar dijalan Allah…..Amin

4. Fachrul Amin - August 19, 2013

izin share ya saudaraku

5. Sitti - January 29, 2013

Smoga ALLAH menempatkannya kelak di dlm surga bersama2 para sahabiah..amin

6. Bani Irwin - September 22, 2012

sya menagis baca cerita ni..insyallah, moga Allah terima pengorbanan kamu kepada agama…Amin, moga kamu dipertemukan dengan Isteri kamu di syurga nanti, pertemuan yang tidak ada perpisahan…=’)

7. abdillah - May 12, 2012

istri yang yang meninggal dunia, sedangkan suaminya ridho dengan istrinya, maka sang istri merupakan permaisurinya di jannah, allahummagh firlaha, warhamha, wa’afiha, wa’fu’anha. amin

8. Abu Aisyah - May 5, 2012

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un….
Ikut berduka cita dan ikut berbahagia…
Ikut berduka karena antum telah ditinggalkan oleh partner dakwah yang tangguh….
Ikut bahagia karena Allah telah anugrahkan kepahaman korban untuk agama kepada istri antum dan beri kemudahan dan kejayaan di akhir hayatnya…..Semoga Allah jadikan Pengorbanan antum dan seluruh keluarga antum sebagai asbab hidayah untuk umat seluruh alam…Amin.

9. sot - March 27, 2012

Mati itu pasti. Segala pengorbanan di jalan Allah pasti ada nilaiannya di sisi Allah. Semoga Tuan akan menemukan kembali isteri tercinta di Syurga nanti. Amiiin.

10. saad - February 29, 2012

semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua, saya menangis mambaca kisah ini….

salam kenal

11. zubeir syaifullah - February 7, 2012

insya allah, allah tidak pernah memungkiri janjinya saudaraku, ia akan menghiasi dirnya untuk menyambut kedatangan mu saudaraku.

12. mukhlis - February 1, 2012

inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…
saya menangis membaca postingan sampean..
usaha dakwah memang hebat,
doakan agar allah swt kuatkan hati sy utk keluar 4bln ipb

karkun cilacap yg tengah bljar d mlsia
Mohd.Mukhlis – muh_mukhlis@yahoo.com

13. adi ndut - January 2, 2012

mas… aku minta maaf baru mengetahui berita duka ini saat ini karena tdk sengaja membuka blog ini. btw aku turut berduka mas… semoga perjuangan mas liliek membawa berkah bagi kita umat semua… amien

Adi Ndut

14. zeta pegasi homam - December 14, 2011

Liliek…ijin share cerita ini ya…

15. Suhari.maulana - December 13, 2011

Mdh2an arwahx di terima di sisi Alloh subhanahu wa ta’ala…
Dan yg di tinggalkan mendapat ketabahan dan trs istiqomah dlm Da’wahx…Amin ya robbal ‘alamin…

16. Liliek - October 13, 2011

@firdaus, silahkan… mudah2an bermanfaat…

17. firdaus - October 8, 2011

syaikh…boleh ga saya share kisah ini

18. zakeria Brunei - September 30, 2011

Allah SWT terima pengorbanan antum sekeluarga asbab hidayat dan keredaanNYa,,

19. M. Kurniawan YH - September 13, 2011

Semoga ALLAH SWT memberkahi dan menerima pengorbanan keluarga Mas Lilik. Amin…..

Dan saya yakin, dengan Usaha Dakwah atau tidak di dalam hidup kita, semua kejadian tetap akan berlaku, hanya bila hidup kita ada Usaha Dakwah semua kejadian tadi akan menjadi Berkah dan akan menjadi berarti di sisi ALLAH SWT dan ini yang akan menjadi kebanggaan kita nanti.

20. abu azim - September 7, 2011

Turut berduka cita mas Liliek, semoga ahliah ditempatkan di sebaik-baiknya tempat di sisi Allah SWT.

Salam kenal dari saya,

abu azim


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: