Sekedar berbagi cerita. Minggu yang lalu saya berkesempatan berkunjung ke Masjid Folkner yang berlokasi di kawasan pinggiran Melbourne sekita 1 jam drive dari tempat dimana saya tinggal. Masjid ini dikenal sebagai markaz kawan-kawan Jamaah Tabligh di sekitar Melbourne Australia. Sebenarnya sudah lama saya diajak dan (juga) berniat untuk berkunjung ke masjid ini. Tapi karena berbagai sebab, saya belum juga bisa sampai ke sana. Dan Jumat kemaren, Alhamdulillah akhirnya sampai juga saya ke masjid yang cukup banyak dibicarakan oleh banyak Muslim di sini.

Kemaren di sinilah saya bisa menemukan hampir seribuan saudara muslim dari beragam etnis dan kebangsaan berkumpul dalam kehangatan Ukhuwah Islamiyah. Dan Bayan minggun kemaren disampaikan oleh seorang Syeikh yang datang dari Arab Saudi. Sementara seribuan jamaah lainnya dengan tenang dan khusyuk mendengarkan bayan yang disampaikan dalam dua bahasa itu. Tak ada kegaduhan ketika bayan disampaikan, kecuali desisan zikir beberapa jamaah merespon beberapa topik yang disampaikan oleh sang Ustadz.Sekalipun saya sudah mengenal aktifitas Jamaah Tabligh cukup lama, tepatnya semenjak hampir sepuluh tahun yang lalu ketika saya setengah ‘terpaksa’ ikut khuruj bersama aktifis JT di Padang saat menjadi mahasiswa, saya tetap saja terpesona dengan suasana yang saya temukan di masjid terbesar Melbourne ini. Perjalanan kemaren memutar kembali memori saya pada suasana yang sama sekitar beberapa tahun yang lalu, yaitu masa ketika saya juga pernah merasakan kedamaian dakwah ala kawan-kawan Tabligh ini.Bagi saya, suasana ini menjadi lebih berkesan karena di tengah gemerlapnya kota Melbourne dengan kehidupan hedonisme dan sekulerismenya, pelan tapi pasti melalui masjid ini cahaya Islam itu dipantulkan (Catatan lain tentang bagaimana JT di Melbourne juga bisa dibaca di sini). Terlepas dari beberapa kritikan yang diarahkan pada metode dakwah Islam ala Tabligh, adalah fakta bahwa secara kuantitatif, member dan simpatisan JT bisa dikatakan paling banyak dan paling menonjol dalam aktifitas dakwah Islam di Australia. Merekalah yang dengan sabar tanpa henti mengetuk pintu rumah setiap muslim di sini setiap saat mengajak manusia kembali ke jalan Allah SWT. Dan hampir bisa juga disimpulkan bahwa merekalah diantara jamaah setia yang meramaikan berbagai masjid di Melbourne dan berbagai kota lainnya di Australia.Dakwah ala Tabligh sepertinya mendapatkan suasana yang ‘kondusif’ di tengah masyarakat sekuler Aussie. Sekalipun secara global, kaum muslimin tengah didera berbagai macam isu yang cendrung menyudutkan, seperti terorisme dan sejenisnya, dakwah JT justru berkembang pesat. Mungkin karena metode dakwahnya yang cendrung ‘apolitik’ dan terbukti membawa kedamaian, para inteligen Australia sepertinya sudah paham betul bahwa dakwah JT tak akan membahayakan keamanan dan interitas negeri Kangguru ini.Bagaimanapun, dakwah Islam ala JT adalah sebuah fenomena gerakan Islam abad modern ini. Tak bisa disangkal, bahwa melalui metode dakwah seperti ini, tak terhitung jumlahnya orang-orang yang mendapatkan hidayah Allah SWT. Sudah puluhan ribu atau bahkan mungkin jutaan orang yang selama ini jauh dari Islam, tapi kemudian alhamdulillah sekarang bisa kembali ke pangkuan Islam. Dan dakwah itu sepertinya akan terus dan terus bergerak. Besar dan semakin besar. Sekalipun tidak langsung berhubungan, namun melihat fenomena membesarnya dakwah Islam di Asutralia, yang salah satunya dilakukan oleh kawan-kawan JT, bisa saja pernyataan kontroversial sang mantan mentri Dona Vale saat debat tentang legalisasi aborsi di parlemen Austrlia beberapa waktu yang lalu adalah benar adanya. Bahwa bahwa 50 tahun lagi bukan tak mungkin Australia bakal menjadi negara berpenduduk mayoritas muslim. Bagaimana menurut kalian? Wallahu a’alam.